You are here:--HATERS

HATERS

Kalau kita perhatikan memang sekarang ini banyak bermunculan “haters”, terutama di dunia maya, khususnya di social media. Hal ini sebenarnya ini juga  dipengaruhi  karena  kemajuan teknologi. Benar sekali jika kita berpendapat bahwa kemajuan teknologi membawa 2 dampak, positif dan negative. Kemajuan teknologi dapat berdampak positif jika kita bisa memnggunakan dan memanfaatkannya  secara  bijak,  namun disisi lain, jika kita menggunakan teknologi dengan tidak terkontrol dan tidak bijak, maka dapat memberikan dampak yang negative.  Hal ini lah yang menjadi salah satu pemicu munculnya fenomena ‘haters’ belakangan ini.

Kalau dulu orang mungkin nggak suka dengan seseorang, dia cerita sama temannya. Nah kalau sekarang, jika ada seseorang yang tidak suka dengan temannya, ia bisa langsung menuliskannya di social media dan bisa dibaca oleh masyarakat luas. Dan mereka juga lebih mudah untuk mengomentari apapun yang diposting oleh seseorang, atau menunjukkan ketiak sukaan terhadap seseorang secara lebih ekspresif dan leluasa di media social.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi mengapa seseorang bisa menjadi ‘haters’, antara lain:

  • Pengaruh lingkungan

Misalnya di social media, ada yang memposting sesuatu yang kita kurang suka atau kita anggap kurang berkenan. Karena banyak orang yang memberikan komentar negative terhadap postingan tersebut, akhirnya kita juga tergerak untuk ikut memberikan postingan negative. Walaupun mungkin sebenarnya kita tidak kenal dengan seseorang yang memposting tersebut. Tapi karena terpengaruh oleh lingkungan, akhirnya kita ikut menjelek jelekkan atau meledek orang yang bersangkutan.

  • Iri atau sirik

Karena tidak bisa ‘menjadi’ seperti mereka atau tidak bisa ‘memiliki barang’ seperti mereka, maka timbul rasa  iri yang akhirnya dikeluarkan melalui kata kata dan kalimat kalimat yang tidak menyenangkan. Atau bahkan dengan memutar balikkan keadaan, misalnya dengan menjelekkan barang tertentu yang dipakai oleh seseorang (namun sebenarnya ia sangat menginginkan barang tersebut).

  • Persaingan

Beberapa orang yang sedang bersaing (dalam hal apapun) dapat mempengaruhi mereka untuk saling menjelek jelekkan satu sama lain dengan tujuan untuk memenangkan persaingan tersebut. Misalnya untuk mendapatkan jabatan tertentu, seseorang memberikan komentar komentar negative dan menjelek jelekkan saingannya di social media, dengan harapan orang orang yang membaca komentarnya akan terpengaruh dan akhirnya juga ikut tidak suka dengan saingannya. Dengan banyak yang tidak suka dengan saingannya tersebut, ia merasa kesempatannya untuk mendapatkan jabatan tertentu menjadi lebih besar.

  • Watak dan kebiasaan

Jika dari kecil seseorang sudah terbiasa dengan lingkungan yang suka memberikan komentar negative atau ia juga hampir selalu menerima komentar negative, hal ini akhirnya  dapat tertanam dalam diri anak tersebut. Sehingga sampai dewasa pun, ia sudah terbisa dengan spontan melontarkan kata kata negative atau akhirnya menjadi ‘haters’

  • Cari perhatian

Bisa juga seseorang menjadi ‘haters’ karena mencari perhatian. Karena begitu ia melontarkan ejekan atau komentar negative, banyak orang yang akan bereaksi terhadap komentarnya.

  • Rasa rendah diri

Karena merasa rendah diri, misalnya karena ia tidak sekaya temannya, akhirnya ia menjelek jelekkan temannya dengan memberikan asumsi asumsi yang negative, misalnya dengan mempertanyaan dari mana kekayaan temannya?, apakah hasil korupsi dll

Jika kita bicara ‘haters’ di social media, ada kemungkinan jika kita bertemu dengan tatap muka dengan orang tersebut, ia akan menunjukkan sifat yang berbeda. Karena media social ini sifatnya ‘dunia maya’, jadi semua dapat berekspresi secara lebih spontan dan tidak disaring. Seseorang dapat lebih bebas berekspresi di ‘dunia maya’ ini dengan tidak mengindahkan norma social yang ada. Dan keberian seseorang untuk melontarkan kata kata negative juga lebih tinggi karena ia tidak langsung bertatap muka dengan orang yang dijelekkan tersebut.

Bagaimana cara menghadapi ‘haters’

Jika tidak terlalu banyak hatersnya dan kita tidak merasa terganggu, bisa didiamkan atau kita bicara secara asertif, jika apa yang ia katakan itu menyakiti perasaan kita. Dan sebisa mungkin kita juga tetap tenang dan santai dalam menghadapi ‘haters’, karena jika kita menjadi terus memikirkan dan stress akan berdampak pada kesehatan mental kita. Kita melakukan hal ini dengan harapan nanti ia akan bosan dan letih sendiri untuk menjadi ‘haters’.

Namun, jika ‘haters’ sudah sedemikian mengganggu atau malah sudah membuat berita yang tidak benar, kita bisa melakukan langkah yang lebih kongkrit, misalnya pengaduan ke pihak pihak tertentu agar ‘haters’ kedepannya bisa lebih baik dalam berkomentar dan ada efek jera.

Namun,  bisa juga seseorang menjadi ‘haters’ karena memang ada sesuatu dalam dirinya yang perlu untuk diperhatikan. Misalnya, watak, rasa rendah diri, kurang perhatian, dll. Untuk itu, mereka perlu mencari pertolongan dari ahli, misalnya konselor, psikolog atau psikiater.

Jika ada teman kita yang termasuk ‘haters’ namun yang dijelek jelekkan adalah orang lain. JIka dengan membaca komentar atau postingannya, kita menjadi emosional, maka sebaiknya kita ‘unfriend’ agar pikiran kita juga menjadi lebih tenang dan tidak terusik dengan kata kata negative yang dituliskannya.

Rena Masri, S. Psi, M. Si, Psikolog

Psikolog Klinis Dewasa

By |2019-09-20T03:02:25+00:00February 21st, 2019|Categories: Gaya Hidup|0 Comments

Leave A Comment