You are here:--This Is Me ; Remaja dan Hijab

This Is Me ; Remaja dan Hijab

Dengan perkembangan variasi hijab yang sangat beragam, remaja saat ini dapat berpenampilan sesuai dengan kepribadiannya dengan tetap menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim.

 

 

Saat ini kita lihat banyak remaja putri yang mengenakan hijab. Selama beberapa tahun terakhir di negara seperti Indonesia dan Malaysia terjadi lonjakan pengguna hijab. Hasil survey juga mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat sekitar 10 persen wanita menggunakan hijab dari seluruh populasi yang ada.  Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, bahwa terdapat 20 juta penduduk Indonesia yang menggunakan hijab.

Dalam era globalisasi saat  ini, kita sudah dapat merasakan dampaknya dalam kehidupan bermasyarakat. Dampak globalisasi ini mencakup segala bidang kehidupan manusia, termasuk di dalamnya gaya berbusana, dan hijab termasuk salah satu dalam perkembangan gaya busana dalam era globalisasi.

Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy Repot 2015 yang ditulis oleh Thomson Reuters dan Dinard Standard, Indonesia berada di urutan ketiga daftar konsumsi terbesar di dunia untuk Hijab.

Fashion hijab awalnya diperkenalkan di Jakarta pada tahun 2010 oleh sebuah komunitas Hijabers yang memperkenalkan gaya berhijab yang trendy dan bervariasi. Komunitas ini kemudian merambah ke kota kota besar lainnya di Indonesia.

Sekarang ini banyak kita jumpai di tempat tempat umum remaja  yang menggunakan hijab. Hijab itu sendiri merupakan identitas wanita dalam agama islam. Dulu sekitar tahun 2010 kebawah, sebelum hijab menjadi ‘trend’, banyak juga remaja putri yang ingin mengenakan hijab, namun hal ini tidak dilakukannya karena berbagai macam alasan. Alasan yang sering kali mendasarinya adalah karena tidak adanya busana muslim yang sesuai selera dan kepribadian, takut terhambat dalam beraktifitas, panas atau gerah, takut terlihat tidak modis terutama di kalangan teman sabaya, dan lain lain.

Seperti kita ketahui, teman sebaya merupakan faktor penting bagi remaja. Laursen (2005) menegaskan bahwa teman sebaya merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan remaja. Penegasan Laursen tersebut sejalan dengan Sternberg (1993) yang mengatakan bahwa remaja dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini menghabiskan sebagian besar waktunya bersama dengan teman sebaya mereka.

Oleh sebab itu, untuk memutuskan apakah seorang remaja akan mengenakan hijab atau tidak, sangat mungkin dipengaruhi oleh teman sebayanya. Jika teman sebaya memberikan kesan yang negatif terhadap penggunaan  hijab,  misalnya  mereka  menganggap  memakai  hijab  sebagai hal yang tidak keren atau kuno, maka para remaja tersebut cenderung akan sangat mempertimbangkan apa yang dikatakan teman sebayanya. Hal ini dapat menyebabkan mereka akhirnya enggan untuk mengenakan hijab.

Namun, sekitar tahun 2010 mulai berkembang variasi hijab dan busana muslimah, hijab tidak lagi dipandang sebagai hal yang tidak modis atau kuno. Karena banyak sekali kita jumpai variasi hijab dan busana muslimah yang sangat mengikuti mode. Hijab juga banyak dibuat dengan mempertimbangkan bahan, sehingga nyaman dipakai dan tidak panas.

Para remaja sekarang ini tidak lagi memandang hijab sebagai sesuatu yang kuno atau keibu-ibuan. Bahkan mereka memandang hijab sebagai sesuatu yang modern dan trendy dengan berbagai macam variasinya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa faktor teman sebaya adalah penting dalam kehidupan remaja. Faktor teman sebaya terhadap remaja berkaitan dengan minat, perilaku, sikap, gaya bicara, dan juga penampilan. Contohnya, remaja seringkali menilai, jika ia mengenakan pakaian atau berpenampilan seperti anggota kelompok popular, maka kemungkinan ia diterima di kalangannya semakin besar.

Karena saat ini hijab dipandang sebagai sesuatu yang trendy dan modis, maka banyak remaja yang mulai menggunakan hijab. Saat ini jika remaja putri ingin mengenakan hijab, mereka tidak lagi khawatir akan penilaian negatif dari teman sebayanya. Remaja putri yang ingin mengenakan hijab bisa dengan leluasa dan bebas menggunakannya sesuai keinginan mereka sendiri. Mereka dapat menggunakan hijab sesuai dengan selera dan kepribadiannya masing masing.

Ditambah dengan munculnya berbagai komunitas pengguna hijab, remaja semakin tertarik untuk menggunakannya, karena hijab dianggap sebagai hal yang sedang ‘ngetrend’ saat ini. Maka agar remaja terlihat lebih popular dan tambil lebih trendy, mereka termotivasi untuk menggunakan hijab.

Dengan banyaknya variasi hijab saat ini, tentu saja remaja dapat bebas memilih jenis dan model hijab yang sesuai dengan selera dan kepribadian mereka masing-masing.  Seperti yang dikemukakan Taylor (2005), bahwa kepribadian tidak dapat diukur dengan pakaian, tetapi cara berpakaian juga mencerminkan kepribadian dan merupakan sebuah identitas diri seseorang.

Misalnya  variasi  warna  pada  hijab.  Dengan banyaknya variasi warna pada hijab, remaja dapat bebas memilih warna hijab sesuai dengan karakter dan keadaan emosi saat itu. Misalnya saja, jika remaja sedang merasa bersemangat dan bervitalitas tinggi, mereka biasanya cenderung memilih warna merah. Warna merah ini juga sering dipilih oleh remaja yang cenderung agresif, impulsif, ambisius, dan bersemangat tinggi. Remaja yang cenderung suka dengan keterbukaan, jujur, perdamaian, biasanya lebih memilih warna hijau dalam menggunakan hijab. Sedangkan hijab dengan dominasi warna putih sering digunakan oleh remaja yang memiliki standart yang tinggi namun sederhana. Begitu pula dengan warna  warna lainnya. Oleh karena itu, variasi hijab dengan berbagai corak dan warna tentu akan merepresentasikan  kepribadian  dan karakter remaja yang menggunakannya.

Begitu  pula dengan remaja yang aktif dan cenderung ‘tomboy’, mereka cenderung lebih memilih hijab yang simple, tidak terlalu banyak aksesoris, bahan yang nyaman, dan yang dapat digunakan dengan waktu yang cepat. Sedangkan remaja yang cenderung ‘girly’, biasanya lebih memilih hijab yang lebih banyak detai dan aksesorisnya dan mereka biasanya tidak bermasalah jika harus menghabiskan waktu yang lebih lama untuk menggunakannya.

 

Berbeda dengan sekarang, dulu jarang kita jumpai remaja putri berhijab. Hal ini disebabkan karena dulu banyak sekolah yang melarang murid menggunakan hijab dengan salah satu alasannya adalah karena penggunaan hijab akan membatasi gerak gerik remaja tersebut. Juga karena model baju muslim terbatas, menyebabkan remaja kurang termotivasi menggunakannya karena terkesan tidak modis dan dapat menghambat aktifitas remaja yang cenderung aktif.

Namun dalam era globalisasi saat ini, remaja dituntut untuk aktif. Aktif dalam kegiatan organisasi, aktif dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, aktif dalam akademis, dan lain-lain yang ditujukan untuk menambah pegetahuan dan wawasannya.

Dengan banyaknya variasi busana muslim dan hijab saat ini, remaja yang aktif ini tetap dapat berkegiatan tanpa adanya hambatan dari pakaian atau hijab yang dikenakannya. Bahkan remaja dapat bebas berolah raga dengan tetap menggunakan hijab sebagai identitas dirinya. Oleh sebab itu, dengan berhijab, aktifitas remaja tidak akan terhambat. Mereka tetap dapat melakukan aktifitasnya.

Begitu pula dengan sosialisasinya, remaja berhijab tidak menyebabkan mereka menjadi terbatas aktifitas sosialnya. Contohnya saja jika kita lihat dalam berbagai jenis pekerjaan, banyak karyawannya yang sudah menggunakan hijab. Dalam berbagai kegiatan juga tampak remaja berhijab ada di dalamnya, misalnya: olah raga, menonton konser, naik gunung, diving, dan banyak kegiatan lainnya.

Manusia mulai melakukan konstruksi identitas sejak mereka mampu berinteraksi dengan orang lain. Karena itu tentu saja faktor-faktor eksternal turut mempengaruhi pembentukan identitas pada remaja.

Maraknya komunitas pengguna hijab saat ini tentu ikut berperan dalam pembentukan identitas seorang remaja. Pembentukan identitas diri remaja ini dipengaruhi oleh kelompok yang menjadi rujukan (reference group) mereka dalam bertindak dan berperilaku. Dalam hal ini, komunitas pengguna hijab banyak dijadikan reference group bagi para remaja yang ingin tampil lebih modis, cantik, dan trendy.

Komunitas ini dapat merubah cara pikir dan cara pandang remaja tentang berpenampilan dengan menggunakan hijab. Sehingga banyak remaja yang walalupun hijab yang digunakan oleh komunitas tersebut tidak sesuai dengan kepribadiannya, namun ia tetap akan menggunakannya karena komunitas tersebut sangat modis atau terkenal sebagai pencipta mode hijab. Hal inilah yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembentukan identitas diri pada remaja

Artikel ini pernah dimuat di:

https://majalahkartini.co.id/berita/tetap-fresh-dan-natural-saat-memakai-hijab/

Artikel ini pernah dimuat di:

https://majalahkartini.co.id/berita/tetap-fresh-dan-natural-saat-memakai-hijab/

By |2019-10-03T03:08:43+00:00January 20th, 2019|Categories: Gaya Hidup|0 Comments

Leave A Comment