You are here:--Bagaimana Menjadi Wanita Karier & Ibu Yang Baik Dalam Menjalani Berbagai Peran?

Bagaimana Menjadi Wanita Karier & Ibu Yang Baik Dalam Menjalani Berbagai Peran?

Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya membutuhkan keberadaan orang lain. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Semenjak bayi sampai tua kita membutuhkan orang lain untuk hidup bersama. Ada berbagai macam bentuk hubungan antar manusia, salah satunya adalah hubungan cinta yang terjalin antar individu.

Cinta itu sendiri sebenarnya merupakan pengalaman terpenting dan paling diinginkan dalam kehidupan manusia. Ada banyak bentuk-bentuk cinta dalam kehidupan manusia, antara lain perasaan cinta antara manusia dengan Tuhan, rasa cinta pada pada keluarga, dan yang tidak kalah penting adalam hubungan cinta dengan lawan jenis yang disukainya.

Hubungan cinta dengan lawan jenis antara laki-laki dan perempuan biasanya diharapkan berujung pada pernikahan. Pearson & Lee dalam Sarwono (1996), mengatakan bahwa pernikahan adalah puncak dari hubungan intim antar jenis kelamin dimana kedua belah pihak saling membagi pengalaman dan perasaan serta pikiran.

Saat memasuki pernikahan, tentu saja seorang laki-laki dan perempuan akan memainkan peran baru sebagai suami dan istri. Terlebih jika sudah memiliki anak, mereka akan mendapatkan peran baru sebagai orang tua, ayah dan ibu.

Seorang ibu bekerja yang memiliki anak tentunya memiliki tantangan tantangan sendiri dalam membesarkan anak anaknya. Terkadang seorang perempuan pekerja yang melahirkan seorang anak akan dihadapkan pada 2 pilihan, melanjutkan bekerja atau berhenti bekerja untuk mengurus segala kebutuhan anak.

Ibu yang memilih untuk tetap bekerja atau berhenti bekerja setelah memiliki anak tentu saja sudah memikirkan berbagai hal, sehingga keputusan yang mereka ambil merupakan keputusan yang mereka anggap paling tepat.

Saat ini menjadi seorang wanita karier merupakan pilihan yang memang dapat diambil oleh siapapun. Kita bisa lihat saat ini perempuan dapat bekerja di berbagai bidang, bahkan untuk bidang bidang strategis seperti kepala daerah, menteri, manager, direktur, dan masih banyak lagi.

Handayani, dkk (2012) mengemukakan bahwa seorang perempuan yang bekerja, memiliki peran ganda yang harus dijalankan pada saat bersamaan. Dimana ia harus bertanggung jawab atas pekerjaannya, juga bertanggung jawab atas perkembangan anak. Hal ini yang sering dikhawatirkan oleh ibu bekerja, mereka khawatir jika tidak dapat memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

Achmad (dalam Wibowo, 2011) mengemukakan bahwa jumlah wanita yang mencari kerja akan semakin bertambah dari waktu ke waktu di sebagian wilayah di dunia. Hal ini dipengaruhi oleh kesetaraan kesempatan yang diperoleh perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan juga pekerjaan.

Work life Balanced tentu saja dapat dimiliki oleh ibu bekerja, jika mereka dapat membagi waktu dan perhatian antara pekerjaan dan keluarga. Juga dengan keteguhan hati bahwa keluarga merupakan fokus yang paling utama. Namun, tentu saja ada beberapa hal terkait pekerjaan ibu yang dapat mempengaruhi pengasuhan buah hati mereka, antara lain:

  • kesepakatan dalam keluarga mengenai pembagian peran dalam rumah tangga
  • jenis pekerjaan yang dimiliki oleh ibu, pekerjaan yang stressfull atau pekerjaan yang lebih santai
  • jarak antara kantor dan rumah
  • lokasi kerja, apakah harus dikerjakan di kantor atau bisa dikerjakan di rumah
  • adakah orang yang dapat dipercaya untuk mengurus segala kebutuhan anak saat ibu bekerja
  • dll

Agar pengasuhan anak pada ibu bekerja bisa tetap berjalan secara optimal, dan ibu tetap bisa menjalankan berbagai perannya, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Carilah pengasuh yang berkualitas untuk menemani anak anak. Hal ini dimaksudkan agar ibu benar benar yakin dan merasa percaya diri saat harus bekerja dan meninggalkan anak anak bersama pengasuhnya.
  • Jika anak anak ‘dititipkan’ kepada keluarga dekat (orang tua atau mertua), sebaiknya mereka memang bersedia dan mampu untuk membantu mengurus anak. Atau walaupun dititipkan pada keluarga, tetap sediakan pengasuh yang berkualitas, jd keluarga hanya perlu mengawasi.
  • Buatlah daftar kegiatan harian yang bisa dilakukan oleh anak anak, sehingga pengasuh lebih mudah untuk mendampingi anak anak
  • Berikan juga fasilitas untuk bermain bagi anak, misalnya puzzle, buku gambar, pinsil warna, dan mainan edukatif lainnya.
  • Buat list aturan yang harus diterapkan kepada anak, seperti : jam tidur siang, penggunaan gadget, dll.
  • Meminimalisasi kerepotan yang terjadi di pagi hari. Contohnya dengan menyiapkan pakaian dan segala keperluan yang akan dipakai atau dibawa dari malam hari, menyiapkan sarapan yang sederhana dan sehat yang tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerjakannya, dan bangun lebih pagi. Dengan melakukan hal ini diharapkan ibu tidak terburu buru di pagi hari, dan bisa tetap melakukan segala rutinitas dengan santai dan tenang.
  • Buat jadwal pengaturan transportasi anak, mislanya siapa yang mengantar dan menjemput ke sekolah atau tempat les.
  • Usahakan setiap hari ibu bisa berkomunikasi dengan anak anak, melalui telepon pengasuh atau keluarga atau melakukan vidio call.
  • Setelah kembali dari bekerja, istirahat sejenak atau rileksasi sejenak, supaya dapat fokus dan tenang saat berhadap dan bermain dengan anak.
  • Ibu juga berhak untuk mendapatkan ‘me time’, dengan melakukan hobby atau kegiatan positif yang disukai, ataupun memanjakan diri ke salon.
  • Rencanakan kegiatan positif bersama keluarga, misalnya liburan, berenang, main sepeda, menonton film di bioskop, dll.

Dan selain saran saran diatas, yang tidak kalah penting adalah buat jadwal untuk bisa tetap menghabiskan waktu berdua dengan pasangan. Karena hubungan yang harmonis antara suami dan istri tentu saja akan memberikan dampak positif bagi pengasuhan anak.

DAFTAR PUSTAKA:

Sarwono, S. W. 1996. Psikologi Sosial; jilid I. Depok; Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

Handayani, A., Maulia, D., & Yulianti, P. D. (2012). Pengaruh konflik peran ganda terhadap kinerja guru. Penilaian kinerja untuk peningkatan profesionalisme guru berkelanjutan. http://prosiding.upgrismg.ac.id/

Wibowo, (2011). Peran Ganda Perempuan Dan Kesetaraan Gender. Muwazah, 2.

By |2019-10-03T03:16:11+00:00January 20th, 2019|Categories: Parenting|0 Comments

Leave A Comment